Wahyuningsih Blog
Rabu, 04 Maret 2015
Selasa, 17 Februari 2015
Senin, 16 Februari 2015
Drama
TUGAS
SENI BUDAYA
“Naskah
Drama Kelompok”
Nama
Kelompok : 1. Indah Kusuma Wardani
(14)
2. Lilis Khoiriyah (17)
3. Mitha Nawangsari (19)
4. Wahyuningsih (34)
Kelas : X RPL 4
SMK Negeri 1 Tengaran
Tahun Pelajaran 2014/ 2015
BANGKITNYA
INDONESIA
Heningnya
malam sangat terasa pada saat itu ditambah tak ada satupun rakyat Indonesia
keluar dari rumahnya. Mungkin mereka tidak berani. Apalagi kejadian penyerangan yang dilakukan
Belanda tadi menambah rasa takut rakyat Indonesia untuk keluar. Namun tampak
dari jauh ada cahaya obor yang dipegang oleh dua orang wanita.
Indah : “Bagaimana ini, kita
tidak bisa tinggal diam, kalau seperti ini terus Indonesia akan terpuruk”
(sambil
menggerak-gerakkan tangannya)
Wahyu : “huuuh (menghela nafas)
lalu apa yang bisa kita lakukan?” (memegang obor)
Indah : “Kita serang markas
Belanda, bagaimana?” (mengerutkan keningnya)
Wahyu : “Tidak, kita tidak boleh gegabah, bagaimana
kalau bukan mereka yang hancur? Tapi malah kita? Lagi pula masih banyak pejuang
laki-laki di Indonesia”
Indah : “Tapi....” (belum selesai bicara dipotong
Wahyu)
Wahyu :
“Sudah, tidak usah kebanyakan tapi, kita pulang sekarang” (menggeret tangan
Indah)
Keesokan harinya rakyat
Indonesia melakukan kegiatan seperti biasanya yaitu menjadi pesuruh noni-noni
Belanda. Terlihat banyak orang yang memikul barang-barang. Dan dua orang
noni-noni Belanda yang akhir-akhir ini sering memimpin penyerangan diberbagai
daerah di Indonesia sedang membentak-bentak Wahyu, yaitu salah satu pekerja
yang telah menumpahkan barang-barang yang ia pikul.
Wahyu : (berjalan sambil memikul barang-barang
dengan wajah tampak kelelahan .... gubrak .... ia menjatuhkan barng bawaannya dan dua
noni-noni Belanda itupun datang menghampiri Wahyu)
Mitha : (dengan wajah penuh amarah) “you bisa
kerja apa tidak sih?”
Wahyu : “Maaf nyonya” (dengan rasa takut)
Mitha : “you pikir dengan you minta maaf you bisa
ngembaliin barang-barang I gitu?” (dengan nada membentak)
Wahyu : “Maaf nyonya, saya akan menggantinya nyonya”
(dengan wajah belas kasihan)
Lilis : “Whaaat, you mau ganti semua
barang-barang ini? You pikir you mampu? Memangnya you punya money berapa?”
(sambil menunjuk-nunjuk Wahyu)
Mitha : “ I tidak mau tau, pokoknya barang-barang
ini harus kembali rapi sampai disana, you understand?” (dengan menunjuk-nunjuk
Wahyu dan nada sedikit membentak)
Wahyu : “baik nyonya” (sambil mengambili
barang-barang yang jatuh untuk dimasukkan ke dalam tempatnya)
Lilis : (berjalan meninggalkan Wahyu diikuti
dengan Mitha) “dasar orang-orang Indonesia memang stupid”
Indah : (berjalan menghampiri Wahyu dan jongkok di
dekat Wahyu sambil memegang pundak Wahyu) “Wahyu, apa kau tidak apa-apa?”
Wahyu : “tidak, aku tidak apa-apa” (sambil
membereskan barang-barang yang tumpah tadi)
Indah : “memang noni-noni Belanda itu Jahanam”
(berdiri dan mengepalkan tangannya dan dengan nada kasar)
Wahyu :
(ikut-ikutan berdiri dan menenangkan Indah) “sudahlah, yang terjadi biarlah berlalu, nanti kalu mereka dengar
bagaimana?” (sedikit membentak)
Sumi langsung terdiam. Di Markas
Belanda terlihat Lilis dan Mitha sedang membicarakan sesuatu yang sangat
penting.
Lilis : “sepertinya ada daerah yang belum
takluk terhadap Kita” (sambil meminum minuman yang ada di meja)
Mitha : (menggebrak meja) “daerah mana yang belum takluk?”
Lillis : “Gorontalo, yang I dengar dari
mata-mata Belanda, daerah itu penghasil rempah-rempah yang cukup lumayan”
Mitha : “ooooooo, begitu, sepertinya kita harus
melakukan penyerangan lagi”
Lilis : “ide yang bagus, dengan begitu kita
akan menguasai rempah-rempah itu” (tertawa dengan nada puas)
Mitha : “tunggu apalagi, siapkan tentara, kita
akan melakukan penyerangan malam ini juga” (menyuruh Lilis)
Lilis :
“baik” (bergegas keluar untuk mempersiapkan tentara)
Benar juga apa yang direncanakan
oleh noni-noni Belanda itu. Malam itu juga mereka melakukan penyerangan ke
Gorontalo. Pada malam hari Lilis dan Mitha berangkat ke Gorontalo mengendarai
mobil. Dan mereka pun akhirnya sampai di Gorontalo juga.
Mitha : “hey you semua, kalau you tidak mau
bekerjasama dengan I, you semua akan tau
akibatnya” (menunjuk-nunjuk warga Gorontalo dan mengancamnya)
Warga
Gorontalo : “tidak, kami tidak sudi untuk tunduk dengan orang-orang licik
seperti kalian” (menunjuk-nunjuk dua noni-noni Belanda)
Lilis : “berani you bilang seperti itu? Apa
you tidak tau siapa I itu?” (menunjuk warga Gorontalo)
Mitha : “tidak usah banyak omong, ayo, habisi
orang-orang bodoh itu” (mengarahkan pistol ke arah warga Gorontalo dang
menembaknya)
Dooorr....
dooorr....dooorr....dooorr....dooorr....dooorr
Terdengar suara teriakan warga
Gorontalo dan banyak berlarian kesana-kemari dengan bingungnya. Tak lama
setelah hampir sebagian warga Gorontalo tewas dan terluka. Sebagian warga
Gorontalo yang selamat, mereka menyerah.
Warga
Gorontalo : “ampun....ampun....ampun, kami menyerah nyonya” (sambil dersimpuh
di hadapan noni-noni Belanda itu)
Lilis : “good...good...good, itu memang
pilihan yang bagus” (mengacungkan jempolnya)
Mitha :
“mulai sekarang, you-you semua jadi budak kami” (menunjuk-nunjuk warga
Gorontalo)
Setelah noni-noni Belanda
berhasil menaklukkan Gorontalo, mereka langsung pergi. Namun, kabar jatuhnya
Gorontalo ke tangan Belanda terdengar oleh Wahyu dan Indah.
Indah : (menggebrak meja) “ini sudah tidak bisa
dibiarkan , kalau begini terus daerah-daerah di Indonesia bisa jatuh ketangan
Belanda semuanya”
Wahyu : “sudahlah, kamu harus tenang, memangnya apa
yang bisa kita lakukan?”
Indah : “bukannya dulu sudah ku bilang, kita
serang Markas Belanda”
Wahyu : “tidak, terlalu bahaya, terlalu bahaya untuk
kita kaum perempuan”
Indah : “lalu? Apa yang kita lakukan? Apa kita
akan membiarkan negara kita dijajah sampai anak cucu kita lahir nanti?”
Wahyu : “aku juga tidak mau itu terjadi, tapi bukan
itu caranya”
Indah : “apa caranya?”
Wahyu : “bukannya noni-noni Belanda itu sekarang
menjadi pemimpinnya? Kalau kita hancurkan pemimpinnya, maka anak buahnya tidak
akan menjajah Indonesia” (dengan wajah serius)
Indah : “benar juga, kapan kita serang noni-noni
Belanda itu”
Wahyu : kemungkinan mereka masih dalam perjalanan
pulang dari Gorontalo, saat itu pula kita hadang mereka”
Indah :
(menganggukkan kelapa) “yaahh... ini sudah waktunya Indonesia Merdeka
Mereka mengambil senjata yang ada, dengan tekad yang kuat,
mereka menjalankan rencanya.
Lilis : (mengendarai
mobilnya bersama Mitha) “Mudah sekali membuat takluk orang Indonesia”
Mitha : “memang bodoh mereka semua”
Wahyu dan Indah yang sedari tadi
memata-matai mereka, sekarang ia mulai menjalankan aksinya.
Wahyu : (bersembunyi bersama
Indah) “ Indah, cepat tembak ban mobil mereka”
Indah :
“baik” (dengan cekatan Indah mengarahkan senapannya ke arah ban mobil yang
dinaiki dua noni-noni Belanda dan menembaknya)
dooorrr....dooorrr....dooorrr....
Sontak mobil yang dinaiki Lilis
dan Mitha oleng, merekapun terjatuh.
Mitha : “kurang ajar, siapa
yang berani melakukan in?” (mencoba untuk berdiri)
Lilis : “pasti ada yang memata-matai kita”
Lilis dan Mitha bergegas
mengambil bom dan melemparkan ke sembarang arah. Doooooorrr, bom itu meledak.
Indah : “bagaimana ini? Mereka
punya bom !”
Wahyu : “tetap sembunyi di sini, kalau perlu tembaki
dari sini”
Indah mengangguk. Terjadi
pertempuran hebat di sana, dooorr.... dooorr.... dooorr.... suara tembakannya.
Lilis : “lihat ! mereka disana” (menunjuk
tempat persembunyian Indah dan Wahyu)
Lilis dan Mitha pun membalas
tembakan dari Indah dan Wahyu. Pertempuran pun semakin memanas.
Wahyu : (bersembunyi) “mereka
sudah tau keberadaan kita, bagaimana in?”
Indah : “mau bagaimana lagi,
kita lawan dari depan” (keluar dari tempat persembunyian)
Wahyu : “Indah, jangan gegabah” (tidak dihiraukan
oleh Indah) “bagaimana ini?” (tetap berada dipersembunyian dan berfikir)
Indah : “hei orang-orang Belanda licik, pergi kamu
dari Bangsaku” (menunjuk-nunjuk noni-noni Belanda)
Mitha : “hei Indah, berani you sama I? Rasakan
ini!” (mengarahkan senapan ke arah Indah) “dooorrr....dooorrr....dooorrr”
(Mitha terjatuh, ternyata Wahyu menembak Mitha dari belakang)
Lilis : (menjatuhkan senapannya)
“Mithaaaa......” (melihat Wahyu dengan tatapan tajam dan berusaha untuk
mengambil senjatanya dan berdiri) (Wahyu pun langsung menarik tangan Indah dan
melarikan diri dari tempat itu)
Lilis :
(muka penuh emosi) “I tidak akan tinggal diam, I akan balas dendam atas
kematian Mitha” (menuju ke mobil dan kembali ke markas dengan ban yang bocor
dan ia meninggalkan Mitha di sana)
Sementara
itu, di rumah Indah dan Wahyu tampak kebingungan
Indah : “bagaimana ini? Seharusnya kita bunuh
Lilis juga” (dengan perasaan jengkel)
Wahyu : “pasti akan ada kesempatan lagi, tenang
saja” (mengelus pundah Indah)
Indah : “tapi, dengan kematian Mitha aku yakin
bangsa Belanda akan semakin murka, apalagi Lilis”
Wahyu : “kenapa mesti takut? Bukankah kita telah
berhasil membunuh Mitha? Pasti nantinya kita juga akan berhasil menghancurkan
Lilis juga” (dengan penuh percaya diri)
Indah : “Aku tidak takut, hanya saja aku khawatir
kalau Belanda menyerang secara tiba-tiba”
Wahyu : “itulah sebabnya kita tidak boleh lengah,
kita harus tetap waspada”
Indah :
“ya, kamu benar!”
Di
markas Belanda tampak Lilis sedang memerintahkan tentara untuk melakukan
sesuatu.
Lilis : “hey you... you pasti sudah mendengar
tentang kematian Mitha dan itu semua karena disebabkan oleh orang-orang
Indonesia yang stupid itu, jadi I minta sekarang you bakar rumah Indah dan
Wahyu malam ini juga” (perintah lilis dengan wajah penuh amarah)
Tentara
Belanda : “baik nyonya” (segera pergi untuk mempersiapkan semua peralatan)
Lilis :
“rasakan pembalasan I” (tertawa)
Malam itu di rumah Indah dan
Wahyu sangat sepi, sepertinya mereka sudah tertidur lelap. Lalu tentara Belanda
mulai menjalankan aksinya, mereka menyiprat-nyipratkan minyak tanah ke rumah
Indah dan Wahyu lalu melemparkan obor ke rumah Indah dan Wahyu. Terlihat
kobaran api yang lama-kelamaan semakin membesar dan asap-pun semakin menyebar
kemana-mana sampai akhirnya membangunkan Indah.
Indah : (terbatuk) “apa ini? Kenapa banyak sekali
asap?” (membangunkan Wahyu) “Wahyu bangun! Wahyu bangun!”
Wahyu : “ada apa in? Kenapa wajahmu ketakutan
seperti in?” (bingung)
Indah : “lihatlah rumah kita, rumah kita
terbakar!” (sambil mengipas-ngipaskan tangannya)
Wahyu : (melihat sekelilingnya) “gawat, ayo kita
pergi sebelum api semakin besar” (berlari dan mengambil senjata)
Indah : “ya” (berlari dan mengambil senjata)
Indah
dan Wahyu : “tolong-tolong, tolong-tolong” (para warga berdatangan)
Para
Warga : “ada apa? Ada apa?”
Indah : “tolong kami, rumah kami terbakar”
Wahyu : “tolong kami, tolong kami” (para warga pun
mengambil air dan menyiramkan ke rumah yang terbakar)
“byuurr...byuurr...byuurr”
Indah : “habislah kita, rumah kita hancur, tak ada
satupun kayu yang tidak menjadi arang” (bersimpuh dan menatap rumah yang
terbakar)
Wahyu : (memegang pundak Indah) “tenanglah, kita
akan cari jalan keluarnya”
Indah : (berdiri dan menghadap Wahyu) “jalan
keluar? Jalan keluar apa? Kita sudah tidak punya apa-apa lagi”
Wahyu : “memang benar kita sudah tak punya apa-apa
lagi, tapi kita masih punya semangat, kita masih punya tekad untuk
menghancurkan Belanda, aku yakin bahwa semua ini adalah ulah Lilis si noni-noni
Belanda itu” (percaya diri)
Indah : “betul juga, ini pasti ulah Lilis”
(menggenggam kedua tangan dan melangkah maju sedikit) “tidak akan aku biarkan
Belanda semakin menjadi-jadi (berlari ke belakang, namun dihadang oleh Wahyu)
Wahyu :
“Indaaahh...” (mengejar Indah)
#MARKAS BELANDA#
Lilis : “benarkah?”
Tentara
Belanda : “Benar nyonya, rumah mereka sudah hangus terbakar, tak ada satupun
yang tersisa” (bersimpuh di depan Lilis)
Lilis : “good...good...good, dengan begitu
pasti Indah si manusia gegabah itu akan datang ke markas kita, jadi jangan lupa
siapkan tentara” (merasa senang dan puas)
Tentara
Belanda : “baik nyonya, tapi nyonya, apakah hanya Indah yang akan datang ke
sini? Bukannya yang telah membunuh nyonya Mitha adalah Wahyu, bukan Indah?”
Lilis : “bodoh you.. “ (sedikit membentak)
“kalau Indah datang kesini pasti si Wahyu juga akan ikut ke sini”
Tentara Belanda : (mengangguk-anggukkan
kepala tanpa mengerti)
Sementara
itu, Indah yang sudah hampir sampai duluan di Markas Belanda segera beraksi.
Indah : (mengendap-endap) “sial, ternyata luas
juga Markas Belanda ini (melihat kiri kanan) tidak ada orang, aku harus mencari
ruangan Lilis berada. (berjalan mengendap-endap mencari ruangan Lilis) ini dia
ruangannya, pasti ini (dengan percaya diri, Indah membuka pintunya)”
Lilis : (bertepuk tangan) “selamat datang
pejuang yang berani” (berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Indah)
Indah : (mengarahkan senapannya) “kamu akan segera
menemui ajalmu manusia licik”
Lilis : “you memang berani, tapi you sangat
bodoh”
Indah : “diam! Lebih baik kau mengucapkan
kata-kata terakhirmu”
Lilis :
“kenapa harus I, yang mengucapkannya kenapa bukan you?”
Indah tidak mengerti apa yang
dimaksud oleh Lilis, tapi ternyata Indah telah masuk ke dalam jebakan Lilis,
ternyata di dalam ruangan Lilis yang gelap itu telah tersembunyi tentara
Belanda yang telah mengarahkan senapannya dari arah belakang.
Tentara Belanda : “jatuhkan senjata you, atau you akan mati!”
Indah : (karena tidak punya pilihan lain, dia pun
menjatuhkan senjatanya, dengan sangat cekatan, Tentara Belanda itu menarik
tangan Indah ke belakang)
Indah : “lepaskan saya, lepaskan saya!”
(meronta-ronta)
Lilis : “bawa dia ke penjara, cepat !”
Tentara
Belanda : “baik” (mendorong badan Indah agar mau diajak berjalan)
Indah : “lepaskan saya, lepaskan saya!” (masih
meronta-ronta)
Tentara
Belanda : “Diam!!!” (mendorong badan Indah memasuki penjara, menutup penjara
itu dan menguncinya)
Indah : “woooyy, lepaskan saya!”
Tentara Belanda : “tidak ada ampun
untuk orang bodoh seperti you” (meninggalkan Indah dan meletakkan kuncipenjara
di gantungan)
Di depan Markas Belanda nampak
Wahyu yang sedang mengendap-endap masuk.
Wahyu :
“dimana anak itu? (menengok kanan kiri) anak itu memang bodoh, selalu bertindak
ceroboh (berjalan mengendap-endap ke ruangan Lilis)”
Wahyu yang ingin membuka pintu
ruangan itupun tidak jadi, karena di dalam ada Lilis yang sedang
berbincang-bincang dengan tentaranya.
Tentara Belanda : “saya sudah memasukkan manusia bodoh itu ke dalam
penjara nyonya”
Lilis : “bagus, jadi kita
tinggal menunggu si Wahyu itu untuk masuk ke dalam jebakan kita”
Tentara Belanda : “baik nyonya”
Wahyu : “manusia bodoh? Apa itu Indah? Kalau memang
itu Indah, berarti Indah dalam bahaya, aku harus menyelamatkan Indah (bergegas
menuju penjara) dimana letak penjara itu? (menengok kanan kiri lalu melihat
Indah) haah.. Indah (mendekati penjara) Indah”
Indah : “Wahyu, tolong lepaskan aku, cepat”
Wahyu : “baik, tapi dimana kuncinya?”
Indah : “lihat (menunjuk kearah kunci) ada di
sana”
Wahyu : “baik (mengambil kunci dan membuka penjara)
ayo kita pergi sekarang, sebelum mereka melihat kita”
Indah :
“baik, ayo”
Namun, saat mereka berbalik,
ternyata tentara Belanda telah menghadang mereka. Wahyu dan Indah saling
berbisik.
Tentara
Belanda : “mau kemana kalian? Jangan coba-coba kabur ya” (sambil mengarahkan
senapannya ke arah Indah dan Wahyu)
Indah : “kita ketahuan, bagaimana ini?”
Wahyu : (dengan sangat cekatan, dia menendang kaki
Tentara Belanda itu sampai terjatuh)
Indah : (merebut senapan dari tangan Tentara
Belanda dan menembaknya hingga meninggal) Dooorr....dooorr....dooorr
Wahyu : “ayo kita pergi”
Indah :
“ya”
Wahyu dan Indah pun pergi, namun
pada saat dia sudah sampai di depan gerbang keluar lagi-lagi ia dihadang oleh
Lilis.
Lilis : “you semua memang
bodoh, you datang kesini sama artinya you cari mati”
Wahyu : “kamu pikir kami takut
dengan mu? Tidak ! kami tidak takut denganmu”
Lilis : “dasar manusia
bodoh” (mengarahkan senapan ke Wahyu)
Indah : “Stop!” (membentangkan tubuhnya di depan
Wahyu) Dooorrrr (peluru pun mengenai dada Indah)
Indah : (Indah mengerang kesakitan dan terjatuh)
“aduuuhhh,, aduuuuhh”
Wahyu : “Indaaahh... (memandangi Indah) Dasar
manusia Jahannam (Wahyu pun emosi, dia menendang kaki Lilis sampai Lilis
bersimpuh di depannya dan Wahyu memukul punggung Lilis menggunakan senapannya
sehingga Lilis terjatuh dan saat itulah Wahyu menembak Lilis) Doooorrr...
Doooorrrr.....Dooooorrrr (Lilis terjatuh dengan bersimpah darah)
Wahyu : (menjatuhkan senjatanya dan menolong Indah)
Wahyu : “kamu harus bangun, kita sudah bebas, kita
Merdeka”
Indah : (memegang dada) “kita mer..dee...kaa...?”
Wahyu : (memegang tangan Indah) “ya, kita merdeka”
Wahyu
dan Indah : “kita merdeka”
#END
Menyayikan lagu Indonesia Pusaka oleh Indah Kusuma
Wardani, Lilis Khoiriyah, Mitha Nawangsari, dan Wahyuningsih disertai puisi.
Ini adalah negeri kita
Ini adalah bangsa kita
Lihatlah dinding kelas kita
Terpampang nyata wajah para perintis bangsa kita
Kini kita yang harus berjuang
Berjuang membebaskan negara tercinta Indonesia dari penjajahan
apapun
Merdeka...Merdeka...Merdeka
Pesan Moral :
Berdasarkan drama
yang kita tampilkan, kita harus mengambil pesan moralnya, yaitu sebagai penerus
bangsa, kita harus menjaga persatuan dan
kesatuan bangsa kita dengan cara mengisi kemerdekaan dengan berbagai hal
positif, misalnya mengikuti organisasi yang bermanfaat dan bersifat mendukung/
baik, mengikuti ekstrakulikuler dengan tertib, melaksanakan upacara bendera
dengan tertib, dan lain-lain.
Langganan:
Komentar (Atom)



