Senin, 16 Februari 2015

Drama



TUGAS SENI BUDAYA
“Naskah Drama Kelompok”


Nama Kelompok        : 1. Indah Kusuma Wardani (14)
  2. Lilis Khoiriyah (17)
  3. Mitha Nawangsari (19)
  4. Wahyuningsih (34)
Kelas                           : X RPL 4







SMK Negeri  1 Tengaran
Tahun Pelajaran 2014/ 2015
BANGKITNYA INDONESIA
                Heningnya malam sangat terasa pada saat itu ditambah tak ada satupun rakyat Indonesia keluar dari rumahnya. Mungkin mereka tidak berani.  Apalagi kejadian penyerangan yang dilakukan Belanda tadi menambah rasa takut rakyat Indonesia untuk keluar. Namun tampak dari jauh ada cahaya obor yang dipegang oleh dua orang wanita.
Indah    : “Bagaimana ini, kita tidak bisa tinggal diam, kalau seperti ini terus Indonesia akan terpuruk”
 (sambil menggerak-gerakkan tangannya)
Wahyu  : “huuuh (menghela nafas) lalu apa yang bisa kita lakukan?” (memegang obor)
Indah    : “Kita serang markas Belanda, bagaimana?” (mengerutkan keningnya)
Wahyu  : “Tidak, kita tidak boleh gegabah, bagaimana kalau bukan mereka yang hancur? Tapi malah          kita? Lagi pula masih banyak pejuang laki-laki di Indonesia”
Indah    : “Tapi....” (belum selesai bicara dipotong Wahyu)
Wahyu  : “Sudah, tidak usah kebanyakan tapi, kita pulang sekarang” (menggeret tangan Indah)
                Keesokan harinya rakyat Indonesia melakukan kegiatan seperti biasanya yaitu menjadi pesuruh noni-noni Belanda. Terlihat banyak orang yang memikul barang-barang. Dan dua orang noni-noni Belanda yang akhir-akhir ini sering memimpin penyerangan diberbagai daerah di Indonesia sedang membentak-bentak Wahyu, yaitu salah satu pekerja yang telah menumpahkan barang-barang yang ia pikul.
Wahyu  : (berjalan sambil memikul barang-barang dengan wajah tampak kelelahan .... gubrak .... ia   menjatuhkan barng bawaannya dan dua noni-noni Belanda itupun datang menghampiri Wahyu)
Mitha    : (dengan wajah penuh amarah) “you bisa kerja apa tidak sih?”
Wahyu  : “Maaf nyonya” (dengan rasa takut)
Mitha    : “you pikir dengan you minta maaf you bisa ngembaliin barang-barang I gitu?” (dengan nada membentak)
Wahyu  : “Maaf nyonya, saya akan menggantinya nyonya” (dengan wajah belas kasihan)
Lilis         : “Whaaat, you mau ganti semua barang-barang ini? You pikir you mampu? Memangnya you punya money berapa?” (sambil menunjuk-nunjuk Wahyu)
Mitha    : “ I tidak mau tau, pokoknya barang-barang ini harus kembali rapi sampai disana, you understand?” (dengan menunjuk-nunjuk Wahyu dan nada sedikit membentak)
Wahyu  : “baik nyonya” (sambil mengambili barang-barang yang jatuh untuk dimasukkan ke dalam tempatnya)
Lilis         : (berjalan meninggalkan Wahyu diikuti dengan Mitha) “dasar orang-orang Indonesia memang stupid”
Indah    : (berjalan menghampiri Wahyu dan jongkok di dekat Wahyu sambil memegang pundak Wahyu) “Wahyu, apa kau tidak apa-apa?”
Wahyu  : “tidak, aku tidak apa-apa” (sambil membereskan barang-barang yang tumpah tadi)
Indah    : “memang noni-noni Belanda itu Jahanam” (berdiri dan mengepalkan tangannya dan dengan nada kasar)
Wahyu  : (ikut-ikutan berdiri dan menenangkan Indah) “sudahlah, yang terjadi  biarlah berlalu, nanti kalu mereka dengar bagaimana?” (sedikit membentak)
                Sumi langsung terdiam. Di Markas Belanda terlihat Lilis dan Mitha sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting.
Lilis         : “sepertinya ada daerah yang belum takluk terhadap Kita” (sambil meminum minuman yang ada di meja)
Mitha    : (menggebrak meja) “daerah mana yang belum takluk?”
Lillis        : “Gorontalo, yang I dengar dari mata-mata Belanda, daerah itu penghasil rempah-rempah yang cukup lumayan”
Mitha    : “ooooooo, begitu, sepertinya kita harus melakukan penyerangan lagi”
Lilis         : “ide yang bagus, dengan begitu kita akan menguasai rempah-rempah itu” (tertawa dengan nada puas)
Mitha    : “tunggu apalagi, siapkan tentara, kita akan melakukan penyerangan malam ini juga” (menyuruh Lilis)
Lilis         : “baik” (bergegas keluar untuk mempersiapkan tentara)
                Benar juga apa yang direncanakan oleh noni-noni Belanda itu. Malam itu juga mereka melakukan penyerangan ke Gorontalo. Pada malam hari Lilis dan Mitha berangkat ke Gorontalo mengendarai mobil. Dan mereka pun akhirnya sampai di Gorontalo juga.
Mitha    : “hey you semua, kalau you tidak mau bekerjasama dengan  I, you semua akan tau akibatnya” (menunjuk-nunjuk warga Gorontalo dan mengancamnya)
Warga Gorontalo : “tidak, kami tidak sudi untuk tunduk dengan orang-orang licik seperti kalian” (menunjuk-nunjuk dua noni-noni Belanda)
Lilis         : “berani you bilang seperti itu? Apa you tidak tau siapa I itu?” (menunjuk warga Gorontalo)
Mitha    : “tidak usah banyak omong, ayo, habisi orang-orang bodoh itu” (mengarahkan pistol ke arah warga Gorontalo dang menembaknya)

Dooorr.... dooorr....dooorr....dooorr....dooorr....dooorr
                Terdengar suara teriakan warga Gorontalo dan banyak berlarian kesana-kemari dengan bingungnya. Tak lama setelah hampir sebagian warga Gorontalo tewas dan terluka. Sebagian warga Gorontalo yang selamat, mereka menyerah.
Warga Gorontalo : “ampun....ampun....ampun, kami menyerah nyonya” (sambil dersimpuh di hadapan noni-noni Belanda itu)
Lilis         : “good...good...good, itu memang pilihan yang bagus” (mengacungkan jempolnya)
Mitha    : “mulai sekarang, you-you semua jadi budak kami” (menunjuk-nunjuk warga Gorontalo)
                Setelah noni-noni Belanda berhasil menaklukkan Gorontalo, mereka langsung pergi. Namun, kabar jatuhnya Gorontalo ke tangan Belanda terdengar oleh Wahyu dan Indah.
Indah    : (menggebrak meja) “ini sudah tidak bisa dibiarkan , kalau begini terus daerah-daerah di Indonesia bisa jatuh ketangan Belanda semuanya”
Wahyu  : “sudahlah, kamu harus tenang, memangnya apa yang bisa kita lakukan?”
Indah    : “bukannya dulu sudah ku bilang, kita serang Markas Belanda”
Wahyu  : “tidak, terlalu bahaya, terlalu bahaya untuk kita kaum perempuan”
Indah    : “lalu? Apa yang kita lakukan? Apa kita akan membiarkan negara kita dijajah sampai anak cucu kita lahir nanti?”
Wahyu  : “aku juga tidak mau itu terjadi, tapi bukan itu caranya”
Indah    : “apa caranya?”
Wahyu  : “bukannya noni-noni Belanda itu sekarang menjadi pemimpinnya? Kalau kita hancurkan pemimpinnya, maka anak buahnya tidak akan menjajah Indonesia” (dengan wajah serius)
Indah    : “benar juga, kapan kita serang noni-noni Belanda itu”
Wahyu  : kemungkinan mereka masih dalam perjalanan pulang dari Gorontalo, saat itu pula kita hadang mereka”
Indah    : (menganggukkan kelapa) “yaahh... ini sudah waktunya Indonesia Merdeka
Mereka mengambil senjata yang ada, dengan tekad yang kuat, mereka menjalankan rencanya.
Lilis         : (mengendarai mobilnya bersama Mitha) “Mudah sekali membuat takluk orang Indonesia”
Mitha    : “memang bodoh mereka semua”         
                Wahyu dan Indah yang sedari tadi memata-matai mereka, sekarang ia mulai menjalankan aksinya.
Wahyu  : (bersembunyi bersama Indah) “ Indah, cepat tembak ban mobil mereka”
Indah    : “baik” (dengan cekatan Indah mengarahkan senapannya ke arah ban mobil yang dinaiki dua noni-noni Belanda dan menembaknya) dooorrr....dooorrr....dooorrr....
                Sontak mobil yang dinaiki Lilis dan Mitha oleng, merekapun terjatuh.
Mitha    : “kurang ajar, siapa yang berani melakukan in?” (mencoba untuk berdiri)
Lilis         : “pasti ada yang memata-matai kita”
                Lilis dan Mitha bergegas mengambil bom dan melemparkan ke sembarang arah. Doooooorrr, bom itu meledak.
Indah    : “bagaimana ini? Mereka punya bom !”
Wahyu  : “tetap sembunyi di sini, kalau perlu tembaki dari sini”
                Indah mengangguk. Terjadi pertempuran hebat di sana, dooorr.... dooorr.... dooorr.... suara tembakannya.
Lilis         : “lihat ! mereka disana” (menunjuk tempat persembunyian Indah dan Wahyu)
                Lilis dan Mitha pun membalas tembakan dari Indah dan Wahyu. Pertempuran pun semakin memanas.
Wahyu  : (bersembunyi) “mereka sudah tau keberadaan kita, bagaimana in?”
Indah    : “mau bagaimana lagi, kita lawan dari depan” (keluar dari tempat persembunyian)
Wahyu  : “Indah, jangan gegabah” (tidak dihiraukan oleh Indah) “bagaimana ini?” (tetap berada dipersembunyian dan berfikir)
Indah    : “hei orang-orang Belanda licik, pergi kamu dari Bangsaku” (menunjuk-nunjuk noni-noni Belanda)
Mitha    : “hei Indah, berani you sama I? Rasakan ini!” (mengarahkan senapan ke arah Indah) “dooorrr....dooorrr....dooorrr” (Mitha terjatuh, ternyata Wahyu menembak Mitha dari belakang)
Lilis         : (menjatuhkan senapannya) “Mithaaaa......” (melihat Wahyu dengan tatapan tajam dan berusaha untuk mengambil senjatanya dan berdiri) (Wahyu pun langsung menarik tangan Indah dan melarikan diri dari tempat itu)
Lilis         : (muka penuh emosi) “I tidak akan tinggal diam, I akan balas dendam atas kematian Mitha” (menuju ke mobil dan kembali ke markas dengan ban yang bocor dan ia meninggalkan Mitha di sana)
                Sementara itu, di rumah Indah dan Wahyu tampak kebingungan
Indah    : “bagaimana ini? Seharusnya kita bunuh Lilis juga” (dengan perasaan jengkel)
Wahyu  : “pasti akan ada kesempatan lagi, tenang saja” (mengelus pundah Indah)
Indah    : “tapi, dengan kematian Mitha aku yakin bangsa Belanda akan semakin murka, apalagi Lilis”
Wahyu  : “kenapa mesti takut? Bukankah kita telah berhasil membunuh Mitha? Pasti nantinya kita juga akan berhasil menghancurkan Lilis juga” (dengan penuh percaya diri)
Indah    : “Aku tidak takut, hanya saja aku khawatir kalau Belanda menyerang secara tiba-tiba”
Wahyu  : “itulah sebabnya kita tidak boleh lengah, kita harus tetap waspada”
Indah    : “ya, kamu benar!”
                Di markas Belanda tampak Lilis sedang memerintahkan tentara untuk melakukan sesuatu.
Lilis         : “hey you... you pasti sudah mendengar tentang kematian Mitha dan itu semua karena disebabkan oleh orang-orang Indonesia yang stupid itu, jadi I minta sekarang you bakar rumah Indah dan Wahyu malam ini juga” (perintah lilis dengan wajah penuh amarah)
Tentara Belanda : “baik nyonya” (segera pergi untuk mempersiapkan semua peralatan)
Lilis         : “rasakan pembalasan I” (tertawa)
                Malam itu di rumah Indah dan Wahyu sangat sepi, sepertinya mereka sudah tertidur lelap. Lalu tentara Belanda mulai menjalankan aksinya, mereka menyiprat-nyipratkan minyak tanah ke rumah Indah dan Wahyu lalu melemparkan obor ke rumah Indah dan Wahyu. Terlihat kobaran api yang lama-kelamaan semakin membesar dan asap-pun semakin menyebar kemana-mana sampai akhirnya membangunkan Indah.
Indah    : (terbatuk) “apa ini? Kenapa banyak sekali asap?” (membangunkan Wahyu) “Wahyu bangun! Wahyu bangun!”
Wahyu  : “ada apa in? Kenapa wajahmu ketakutan seperti in?” (bingung)
Indah    : “lihatlah rumah kita, rumah kita terbakar!” (sambil mengipas-ngipaskan tangannya)
Wahyu  : (melihat sekelilingnya) “gawat, ayo kita pergi sebelum api semakin besar” (berlari dan mengambil senjata)
Indah    : “ya” (berlari dan mengambil senjata)
Indah dan Wahyu : “tolong-tolong, tolong-tolong” (para warga berdatangan)
Para Warga : “ada apa? Ada apa?”
Indah    : “tolong kami, rumah kami terbakar”
Wahyu  : “tolong kami, tolong kami” (para warga pun mengambil air dan menyiramkan ke rumah yang terbakar) “byuurr...byuurr...byuurr”
Indah    : “habislah kita, rumah kita hancur, tak ada satupun kayu yang tidak menjadi arang” (bersimpuh dan menatap rumah yang terbakar)
Wahyu  : (memegang pundak Indah) “tenanglah, kita akan cari jalan keluarnya”
Indah    : (berdiri dan menghadap Wahyu) “jalan keluar? Jalan keluar apa? Kita sudah tidak punya apa-apa lagi”
Wahyu  : “memang benar kita sudah tak punya apa-apa lagi, tapi kita masih punya semangat, kita masih punya tekad untuk menghancurkan Belanda, aku yakin bahwa semua ini adalah ulah Lilis si noni-noni Belanda itu” (percaya diri)
Indah    : “betul juga, ini pasti ulah Lilis” (menggenggam kedua tangan dan melangkah maju sedikit) “tidak akan aku biarkan Belanda semakin menjadi-jadi (berlari ke belakang, namun dihadang oleh Wahyu)
Wahyu  : “Indaaahh...” (mengejar Indah)
#MARKAS BELANDA#
Lilis         : “benarkah?”
Tentara Belanda : “Benar nyonya, rumah mereka sudah hangus terbakar, tak ada satupun yang tersisa” (bersimpuh di depan Lilis)
Lilis         : “good...good...good, dengan begitu pasti Indah si manusia gegabah itu akan datang ke markas kita, jadi jangan lupa siapkan tentara” (merasa senang dan puas)
Tentara Belanda : “baik nyonya, tapi nyonya, apakah hanya Indah yang akan datang ke sini? Bukannya yang telah membunuh nyonya Mitha adalah Wahyu, bukan Indah?”
Lilis         : “bodoh you.. “ (sedikit membentak) “kalau Indah datang kesini pasti si Wahyu juga akan ikut ke sini”
Tentara Belanda : (mengangguk-anggukkan kepala tanpa mengerti)
                Sementara itu, Indah yang sudah hampir sampai duluan di Markas Belanda segera beraksi.
Indah    : (mengendap-endap) “sial, ternyata luas juga Markas Belanda ini (melihat kiri kanan) tidak ada orang, aku harus mencari ruangan Lilis berada. (berjalan mengendap-endap mencari ruangan Lilis) ini dia ruangannya, pasti ini (dengan percaya diri, Indah membuka pintunya)”
Lilis         : (bertepuk tangan) “selamat datang pejuang yang berani” (berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Indah)
Indah    : (mengarahkan senapannya) “kamu akan segera menemui ajalmu manusia licik”
Lilis         : “you memang berani, tapi you sangat bodoh”
Indah    : “diam! Lebih baik kau mengucapkan kata-kata terakhirmu”
Lilis         : “kenapa harus I, yang mengucapkannya kenapa bukan you?”
                Indah tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Lilis, tapi ternyata Indah telah masuk ke dalam jebakan Lilis, ternyata di dalam ruangan Lilis yang gelap itu telah tersembunyi tentara Belanda yang telah mengarahkan senapannya dari arah belakang.
Tentara Belanda : “jatuhkan senjata you, atau you akan mati!”
Indah    : (karena tidak punya pilihan lain, dia pun menjatuhkan senjatanya, dengan sangat cekatan, Tentara Belanda itu menarik tangan Indah ke belakang)
Indah    : “lepaskan saya, lepaskan saya!” (meronta-ronta)
Lilis         : “bawa dia ke penjara, cepat !”
Tentara Belanda : “baik” (mendorong badan Indah agar mau diajak berjalan)
Indah    : “lepaskan saya, lepaskan saya!” (masih meronta-ronta)
Tentara Belanda : “Diam!!!” (mendorong badan Indah memasuki penjara, menutup penjara itu dan menguncinya)
Indah    : “woooyy, lepaskan saya!”
Tentara Belanda : “tidak ada ampun untuk orang bodoh seperti you” (meninggalkan Indah dan meletakkan kuncipenjara di gantungan)
                Di depan Markas Belanda nampak Wahyu yang sedang mengendap-endap masuk.
Wahyu  : “dimana anak itu? (menengok kanan kiri) anak itu memang bodoh, selalu bertindak ceroboh (berjalan mengendap-endap ke ruangan Lilis)”
                Wahyu yang ingin membuka pintu ruangan itupun tidak jadi, karena di dalam ada Lilis yang sedang berbincang-bincang dengan tentaranya.
Tentara Belanda : “saya sudah memasukkan manusia bodoh itu ke dalam penjara nyonya”
Lilis         : “bagus, jadi kita tinggal menunggu si Wahyu itu untuk masuk ke dalam jebakan kita”
Tentara Belanda : “baik nyonya”
Wahyu  : “manusia bodoh? Apa itu Indah? Kalau memang itu Indah, berarti Indah dalam bahaya, aku harus menyelamatkan Indah (bergegas menuju penjara) dimana letak penjara itu? (menengok kanan kiri lalu melihat Indah) haah.. Indah (mendekati penjara) Indah”
Indah    : “Wahyu, tolong lepaskan aku, cepat”
Wahyu  : “baik, tapi dimana kuncinya?”
Indah    : “lihat (menunjuk kearah kunci) ada di sana”
Wahyu  : “baik (mengambil kunci dan membuka penjara) ayo kita pergi sekarang, sebelum mereka melihat kita”
Indah    : “baik, ayo”
                Namun, saat mereka berbalik, ternyata tentara Belanda telah menghadang mereka. Wahyu dan Indah saling berbisik.
Tentara Belanda : “mau kemana kalian? Jangan coba-coba kabur ya” (sambil mengarahkan senapannya ke arah Indah dan Wahyu)
Indah    : “kita ketahuan, bagaimana ini?”
Wahyu : (dengan sangat cekatan, dia menendang kaki Tentara Belanda itu sampai terjatuh)
Indah    : (merebut senapan dari tangan Tentara Belanda dan menembaknya hingga meninggal) Dooorr....dooorr....dooorr
Wahyu : “ayo kita pergi”
Indah    : “ya”
                Wahyu dan Indah pun pergi, namun pada saat dia sudah sampai di depan gerbang keluar lagi-lagi ia dihadang oleh Lilis.
Lilis         : “you semua memang bodoh, you datang kesini sama artinya you cari mati”
Wahyu  : “kamu pikir kami takut dengan mu? Tidak ! kami tidak takut denganmu”
Lilis         : “dasar manusia bodoh” (mengarahkan senapan ke Wahyu)
Indah    : “Stop!” (membentangkan tubuhnya di depan Wahyu) Dooorrrr (peluru pun mengenai dada Indah)
Indah    : (Indah mengerang kesakitan dan terjatuh) “aduuuhhh,, aduuuuhh”
Wahyu  : “Indaaahh... (memandangi Indah) Dasar manusia Jahannam (Wahyu pun emosi, dia menendang kaki Lilis sampai Lilis bersimpuh di depannya dan Wahyu memukul punggung Lilis menggunakan senapannya sehingga Lilis terjatuh dan saat itulah Wahyu menembak Lilis) Doooorrr... Doooorrrr.....Dooooorrrr (Lilis terjatuh dengan bersimpah darah)
Wahyu  : (menjatuhkan senjatanya dan menolong Indah)
Wahyu  : “kamu harus bangun, kita sudah bebas, kita Merdeka”
Indah    : (memegang dada) “kita mer..dee...kaa...?”
Wahyu  : (memegang tangan Indah) “ya, kita merdeka”
Wahyu dan Indah : “kita merdeka”

#END
Menyayikan lagu Indonesia Pusaka oleh Indah Kusuma Wardani, Lilis Khoiriyah, Mitha Nawangsari, dan Wahyuningsih disertai puisi.
Ini adalah negeri kita
Ini adalah bangsa kita
Lihatlah dinding kelas kita
Terpampang nyata wajah para perintis bangsa kita
Kini kita yang harus berjuang
Berjuang membebaskan negara tercinta Indonesia dari penjajahan apapun
Merdeka...Merdeka...Merdeka
Pesan Moral :
                Berdasarkan drama yang kita tampilkan, kita harus mengambil pesan moralnya, yaitu sebagai penerus bangsa,  kita harus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa kita dengan cara mengisi kemerdekaan dengan berbagai hal positif, misalnya mengikuti organisasi yang bermanfaat dan bersifat mendukung/ baik, mengikuti ekstrakulikuler dengan tertib, melaksanakan upacara bendera dengan tertib, dan lain-lain.